Tugas Pendahuluan 1
PENGELOLAAN MINERAL MANGAN DI SUMBAWA
Mangan adalah kimia logam
aktif, abu-abu merah muda yang di tunjukkan pada symbol Mn dan nomor atom 25.
Ini adalah elemen pertama di Grup 7 dari tabel periodic. Mangan merupakan dua
belas unsur paling berlimpah di kerak bumi (sekitar 0,1%) yang terjadi secara
alamiah. Mangan merupakan logam keras dan sangat rapuh. Sulit untuk meleleh,
tetapi mudah teroksidasi. Mangan bersifat reaktif ketika murni, dan sebagai
bubuk itu akan terbakar dalam oksigen, bereaksi dengan air dan larut dalam asam
encer. Menyerupai besi tapi lebih keras dan lebih rapuh.
Mineral mangan tersebar
secara luas dalam banyak bentuk; oksida, silikat, karbonat adalah senyawa yang
paling umum. Penemuan sejumlah besar senyawa mangan di dasar lautan merupakan
sumber mangan dengan kandungan 24%, bersamaan dengan unsur lainnya dengan
kandungan yang lebih sedikit.
Kebanyakan senyawa mangan
saat ini ditemukan di Rusia, Brazil, Australia, Afrika sSelatan, Gabon, dan
India. Irolusi dan rhodokhrosit adalah mineral mangan yang paling banyak
dijumpai. Logam ,mangan diperoleh dengan mereduksi oksida mangan dengan
natrium, magnesium, aluminum atau dengan proses elektrolisis.
Di Indonesia, mangan telah
ditemukan sejak 1854, yaitu terdapat di Karangnunggal, Tasikmalaya (Jabar)
tetapi baru dieksploitasi pada tahun 1930. daerah-daerah lain yang mempunyai
potensi mangan adalah Kulonprogo (Yogya), pegunungan karang bolong (Kedu
Selatan), Peg. Menoreh (magelang), Gunung Kidul, Sumatera Utara Pantai Timur,
aceh, dll
Dalam tahun anggaran 2006,
salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Eksplorasi Endapan Mangan di daerah
Sumbawa Besar Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Secara geologi, daerah ini masih mempunyai potensi terdapatnya mineral logam dan mineral-mineral lainnya. Batuan Vulkanik dan batuan terobosan sebagai pembawa mineral logam yang merupakan batuan utama di daerah ini mempunyai prospek terdapatnya endapan Mineral logam.
Maksud dilakukannya eksplorasi mangan di Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah mengidentifikasi indikasi cebakan bijih mangan secara akurat dan mempelajari kondisi geologi serta tipe cebakan tersebut.
Tujuannya untuk mengetahui sebaran bijih secara horizontal maupun vertikal sehingga bisa diketahui potensi sumber daya hipotetiknya.
Secara Administratif daerah kegiatan eksplorasi Mangan terletak di Sumbawa Besar tepatnya daerah Olat Maja Kab. Sumbawa (Gambar1)
Metoda penyelidikan yang di lakukan dalam eksplorasi endapan mangan ini meliputi :
1.Kegiatan Penyelidikan Lapangan
2.Analisis Laboratorium
Secara geologi, daerah ini masih mempunyai potensi terdapatnya mineral logam dan mineral-mineral lainnya. Batuan Vulkanik dan batuan terobosan sebagai pembawa mineral logam yang merupakan batuan utama di daerah ini mempunyai prospek terdapatnya endapan Mineral logam.
Maksud dilakukannya eksplorasi mangan di Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah mengidentifikasi indikasi cebakan bijih mangan secara akurat dan mempelajari kondisi geologi serta tipe cebakan tersebut.
Tujuannya untuk mengetahui sebaran bijih secara horizontal maupun vertikal sehingga bisa diketahui potensi sumber daya hipotetiknya.
Secara Administratif daerah kegiatan eksplorasi Mangan terletak di Sumbawa Besar tepatnya daerah Olat Maja Kab. Sumbawa (Gambar1)
Metoda penyelidikan yang di lakukan dalam eksplorasi endapan mangan ini meliputi :
1.Kegiatan Penyelidikan Lapangan
2.Analisis Laboratorium
Penyelidik terdahulu yang
melakukan penyelidikan di daerah Kab. Sumbawa antara lain :
·
Bemmelen
(1949) mendeskripsi dan menyusun geologi dan sumberdaya mineral Pulau Sumbawa
termasuk daerah penyelidikan. Yang dipublikasikan dalam “The
Geology of Indonesia Vol II Economic Geology.
·
A.
Sudrajat, S. Andi Mangga dan N. Suwarna melakukan pemetaan Geologi lembar
Sumbawa yang dipublikasikan oleh P3G tahun 1998 skala1:250.000
·
Ir. Amir
Faizal Suud, Ir. Nono Suratno dan Ir. Gagarin Sembiring menyusun buku mengenai Lokasi
dan Potensi Sumberdaya Mineral (Bahan Galian Gol. B dan C)
·
PT.
Newmont Nusa Tenggara melakukan penyelidikan tentang Porphyry copper gold
deposit di Batu hijau, Jereweh oleh Simon J J Meldrum et al 1993
·
PT.
Mitra Sumbawa Minerals, th 1997 melakukan penyelidikan logam dasar.
HASIL PENYELIDIKAN
Penyelidikan
di daerah Olat Maja Kecamatan Lape dan Kecamatan Marongge, Kabupaten Sumbawa
dilakukan pada daerah seluas (11 km x 6 km) yang dilakukan dengan metoda
penyelidikan: pemetaan geologi dan mineralisasi skala 1 : 25.000,
pengambilan conto ‘channel’ pada singkapan bijih
mangan, pembuatan paritan sebanyak 1 lokasi, lintasan terukur 1 lokasi dan
sumur uji 4 lokasi. Dalam
penyelidikan ini telah diperoleh conto terpilih sebanyak 40 conto untuk
dianalisis kimia, 17 conto analisis petrografi dan 11 conto analisis bijih
serta 9 conto untuk analisis berat jenis. Dari hasil penyelidikan lapangan akan
diketahui pola penyebaran litologi batuan, mineralisasi mangan serta hubungan
dari keduanya
Geologi Dan Mineralisasi Daerah Eksplorasi
Mangan di Sumbawa Besar
Daerah olat Maja
Batuan yang terdapat di daerah penyelidikan terdiri dari Satuan Batuan Breksi gunungapi, Satuan Batuan Tufa dan Breksi tufa, Satuan Batuan Tufa gampingan, Satuan Batuan Batugamping, Satuan Batuan Andesit, Satuan Batuan Diorit dan Aluvial. (Gambar 2). Sebagian dari batuan tersebut terbreksikan dan mengalami ubahan silisifikasi hingga argilik Dari pengamatan di lapangan batuan ini dipengaruhi oleh struktur patahan geser menganan (dextral)maupun mengiri (Sinistral)
Batuan lainnya yang terdapat di daerah penyelidikan berupa endapan aluvial rawa dan sungai .
Struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan adalah berupa struktur kekar dan sesar. Struktur kekar berkembang pada batuan intrusi sedangkan struktur sesar di daerah penyelidikan diketahui berdasarkan indikasi adanya gawir sesar yang terdapat di daerah penyelidikan diantaranya lereng terjal di daerah Bukit Olat Maja dari pola aliran sungai dan kelurusan topografi serta adanya mata air yang mengandung sulfur dan besi yang tinggi. Pola dan kelurusan di daerah penyelidikan, baratdaya-timurlaut, baratlaut-tenggara. Sedangkan pola aliran sungai yang diperkirakan mendukung adanya pola sesar adalah aliran S Lenteh yang bermuara pada teluk Ailepok.
Batuan yang terdapat di daerah penyelidikan terdiri dari Satuan Batuan Breksi gunungapi, Satuan Batuan Tufa dan Breksi tufa, Satuan Batuan Tufa gampingan, Satuan Batuan Batugamping, Satuan Batuan Andesit, Satuan Batuan Diorit dan Aluvial. (Gambar 2). Sebagian dari batuan tersebut terbreksikan dan mengalami ubahan silisifikasi hingga argilik Dari pengamatan di lapangan batuan ini dipengaruhi oleh struktur patahan geser menganan (dextral)maupun mengiri (Sinistral)
Batuan lainnya yang terdapat di daerah penyelidikan berupa endapan aluvial rawa dan sungai .
Struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan adalah berupa struktur kekar dan sesar. Struktur kekar berkembang pada batuan intrusi sedangkan struktur sesar di daerah penyelidikan diketahui berdasarkan indikasi adanya gawir sesar yang terdapat di daerah penyelidikan diantaranya lereng terjal di daerah Bukit Olat Maja dari pola aliran sungai dan kelurusan topografi serta adanya mata air yang mengandung sulfur dan besi yang tinggi. Pola dan kelurusan di daerah penyelidikan, baratdaya-timurlaut, baratlaut-tenggara. Sedangkan pola aliran sungai yang diperkirakan mendukung adanya pola sesar adalah aliran S Lenteh yang bermuara pada teluk Ailepok.
Mineralisasi Mangan di Olat
Baramayung
Mineralisasi mangan di Olat Baramayung terdapat pada punggungan bukit olat Baramayung pada ketinggian 175 m dpl, luas singkapan mineralisasi kurang lebih (25 x 100)m2. Endapan mangan dijumpai dilapisan satuan batuan sedimen tufa gampingan diduga terdiri dari mineral manganit (?). Secara megaskopis sifat mangan di lokasi ini berwarna abu-abu metalik hingga hitam, berbutir halus hingga kasar, tekstur masif hingga laminasi kadang-kadang membentuk kristal dengan kilap logam. Mineralisasi ini mempunyai arah dan kemiringan yang relatif sama dengan batuan tufa gampingan U335°T/24° (foto 1,2 dan gambar 4, 5). Secara stratigrafi kedudukan mangan berada dilapisan satuan batuan tufa gampingan sedangka tufa gampingan menindih diatas satuan batuan breksi gunungapi. Singkapan mangan ini menunjukkan adanya ubahan silisifikasi dan struktur foliasi yang diduga diakibatkan adanya terobosan diorit.
Untuk perhitungan sumberdaya hipotetik dibuat Paritan Lintasan terukur (LT-1) guna pengambilan conto alur (Channel sampling) setiap 2m dan setiap adanya perubahan komposisi fisik, dan terkumpul
conto sebanyak 18 conto (gambar 4)
Mineralisasi mangan di Olat Baramayung terdapat pada punggungan bukit olat Baramayung pada ketinggian 175 m dpl, luas singkapan mineralisasi kurang lebih (25 x 100)m2. Endapan mangan dijumpai dilapisan satuan batuan sedimen tufa gampingan diduga terdiri dari mineral manganit (?). Secara megaskopis sifat mangan di lokasi ini berwarna abu-abu metalik hingga hitam, berbutir halus hingga kasar, tekstur masif hingga laminasi kadang-kadang membentuk kristal dengan kilap logam. Mineralisasi ini mempunyai arah dan kemiringan yang relatif sama dengan batuan tufa gampingan U335°T/24° (foto 1,2 dan gambar 4, 5). Secara stratigrafi kedudukan mangan berada dilapisan satuan batuan tufa gampingan sedangka tufa gampingan menindih diatas satuan batuan breksi gunungapi. Singkapan mangan ini menunjukkan adanya ubahan silisifikasi dan struktur foliasi yang diduga diakibatkan adanya terobosan diorit.
Untuk perhitungan sumberdaya hipotetik dibuat Paritan Lintasan terukur (LT-1) guna pengambilan conto alur (Channel sampling) setiap 2m dan setiap adanya perubahan komposisi fisik, dan terkumpul
conto sebanyak 18 conto (gambar 4)
Endapan mangan sekunder
Baramayung
Proses pembentukan endapan sekunder sangat didominasi oleh media air, sehingga jejak-jejak pembentukannya dicirikan oleh ciri fisik dan bentuk struktur yang spesifik, seperti diantaranya adanya struktur perlapisan.
Endapan mangan Baramayung dijumpai dilapisan satuan batuan sedimen tufa gampingan diduga terdiri dari mineral manganit (?). Secara megaskopis sifat mangan di lokasi ini yang telah disebutkan diatas diantaranya tekstur masif hingga laminasi kadang-kadang membentuk kristal dengan kilap logam. Mineralisasi ini mempunyai arah dan kemiringan yang relatif sama dengan batuan tufa gampingan. Berdasarkan ciri tersebut diatas maka mineralisasi mangan di daerah penyelidikan termasuk kedalam tipe endapan mangan sekunder (foto 1 dan 2).
Proses pembentukan endapan sekunder sangat didominasi oleh media air, sehingga jejak-jejak pembentukannya dicirikan oleh ciri fisik dan bentuk struktur yang spesifik, seperti diantaranya adanya struktur perlapisan.
Endapan mangan Baramayung dijumpai dilapisan satuan batuan sedimen tufa gampingan diduga terdiri dari mineral manganit (?). Secara megaskopis sifat mangan di lokasi ini yang telah disebutkan diatas diantaranya tekstur masif hingga laminasi kadang-kadang membentuk kristal dengan kilap logam. Mineralisasi ini mempunyai arah dan kemiringan yang relatif sama dengan batuan tufa gampingan. Berdasarkan ciri tersebut diatas maka mineralisasi mangan di daerah penyelidikan termasuk kedalam tipe endapan mangan sekunder (foto 1 dan 2).
Mineralisasi gosan (oksida
besi manganese ?) di S. Pasar, lereng barat bukit Olat Maja.
Secara umum geologi daerah hulu sungai A. Pasar (skala 1:2.500) tersusun oleh 2 macam batuan yaitu Tufa pasiran dan Batulempung tufaan yang berlapis baik dengan kedudukan U220T/25. Batuan tufa pasiran mengalami ubahan silisifikasi hingga Argilik, batuan ini termasuk satuan batuan tufa dan breksi tufa dalam (peta geologi 1:25.000) yang diperkirakan berumur Oligosen hingga Miosen Bawah ( Peta geologi dan potensi bahan galian Nusatenggara Barat oleh N. Suratno) sedangkan batuan lempung tufaan berlapis baik dan tidak mengalami ubahan di duga diendapkan diatas batuan tufa pasiran (gambar 6).
Diatas singkapan tersebut tersebar endapan deluvial batuan breksi yang termineralisasi pada fragmennya tersebar bintik-bintik coklat kehitaman dan coklat kemerahan berupa oksida besi manganese ? dan diduga mineral pirit yang sudah terubah ?. Sedangkan pada fragmen batuan yang halus berupa pasir hingga kerikil serta pada semen (matrik) terlihat mineralisasi oksida besi/limonitik lebih dominan dan diduga gosan. Pada beberapa tempat kadang kadang terlihatadanya bintik bintik berwarna kebiruan dan kehijauan yang diduga azurit dan malakit yang terlihat pada conto SB-92-R
Endapan deluvial tersebut berukuran diameter 0,5m hingga 4m (foto 3), umumnya berwarna merah kecoklatan hingga coklat kehitaman. Penyebarannya dihulu S. Pasar seluas kurang lebih (100x250) m2 tersingkap pada ketinggan 200 m hingga 280m dpl. .Pada daerah mineralisasi ini dibuat satu buah paritan sepanjang 25 m dan 4 buah sumur uji (foto 4)
Model Endapan
Mineralisasi yang terdapat di S. Pasar kemungkinan berupa gossan yang mengandung oksida besi manganese, pada daerah ini terindikasi adanya dua sesar yang diduga sangat berperan dalam pembentukan mineralisasi gossan pada daerah ini. Selain itu juga adanya intrusi diorit maupun andesit yang bekerja didaerah penyelidikan diduga berpengaruh terjadinya pembentukan mineral ini.
Oksida besi manganese yang berupa bongkah-bongkah ini diduga terbentuk akibat proses pelapukan/oksidasi residual dari mineral mineral mafik yang terkandung dalam tufa andesitik-dasitik (host rock) yang berkomposisi besi- magnesium -aluminium silika.
Pada proses pelapukan ini terjadi akibat fluktuasi permukaan air tanah naik, proses ini garam-garam besi yang larut dalam air tanah diubah menjadi besi fero hidroksida. Kemudian saat musim kemarau terjadi penurunan air tanah, sehingga besi feri hidroksida tertinggal dipermukaan, kemudian bereaksi dengan oksigen dari udara dan air permukaan, pada saat tersebut fero hidroksida dirubah menjadi feri hidroksida yang lebih stabil, yaitu limonit yang umumnya berwarna coklat kekuningan dan mengendap di permukaan.
Secara umum geologi daerah hulu sungai A. Pasar (skala 1:2.500) tersusun oleh 2 macam batuan yaitu Tufa pasiran dan Batulempung tufaan yang berlapis baik dengan kedudukan U220T/25. Batuan tufa pasiran mengalami ubahan silisifikasi hingga Argilik, batuan ini termasuk satuan batuan tufa dan breksi tufa dalam (peta geologi 1:25.000) yang diperkirakan berumur Oligosen hingga Miosen Bawah ( Peta geologi dan potensi bahan galian Nusatenggara Barat oleh N. Suratno) sedangkan batuan lempung tufaan berlapis baik dan tidak mengalami ubahan di duga diendapkan diatas batuan tufa pasiran (gambar 6).
Diatas singkapan tersebut tersebar endapan deluvial batuan breksi yang termineralisasi pada fragmennya tersebar bintik-bintik coklat kehitaman dan coklat kemerahan berupa oksida besi manganese ? dan diduga mineral pirit yang sudah terubah ?. Sedangkan pada fragmen batuan yang halus berupa pasir hingga kerikil serta pada semen (matrik) terlihat mineralisasi oksida besi/limonitik lebih dominan dan diduga gosan. Pada beberapa tempat kadang kadang terlihatadanya bintik bintik berwarna kebiruan dan kehijauan yang diduga azurit dan malakit yang terlihat pada conto SB-92-R
Endapan deluvial tersebut berukuran diameter 0,5m hingga 4m (foto 3), umumnya berwarna merah kecoklatan hingga coklat kehitaman. Penyebarannya dihulu S. Pasar seluas kurang lebih (100x250) m2 tersingkap pada ketinggan 200 m hingga 280m dpl. .Pada daerah mineralisasi ini dibuat satu buah paritan sepanjang 25 m dan 4 buah sumur uji (foto 4)
Model Endapan
Mineralisasi yang terdapat di S. Pasar kemungkinan berupa gossan yang mengandung oksida besi manganese, pada daerah ini terindikasi adanya dua sesar yang diduga sangat berperan dalam pembentukan mineralisasi gossan pada daerah ini. Selain itu juga adanya intrusi diorit maupun andesit yang bekerja didaerah penyelidikan diduga berpengaruh terjadinya pembentukan mineral ini.
Oksida besi manganese yang berupa bongkah-bongkah ini diduga terbentuk akibat proses pelapukan/oksidasi residual dari mineral mineral mafik yang terkandung dalam tufa andesitik-dasitik (host rock) yang berkomposisi besi- magnesium -aluminium silika.
Pada proses pelapukan ini terjadi akibat fluktuasi permukaan air tanah naik, proses ini garam-garam besi yang larut dalam air tanah diubah menjadi besi fero hidroksida. Kemudian saat musim kemarau terjadi penurunan air tanah, sehingga besi feri hidroksida tertinggal dipermukaan, kemudian bereaksi dengan oksigen dari udara dan air permukaan, pada saat tersebut fero hidroksida dirubah menjadi feri hidroksida yang lebih stabil, yaitu limonit yang umumnya berwarna coklat kekuningan dan mengendap di permukaan.
Potensi Endapan Mangan di
daerah Olat Maja
Untuk menghitung potensi Endapan Mangan dilakukan dengan cara menghitung volume bijih dikalikan dengan berat jenis mangan. Maka rumus yang digunakan adalah :
C = (L X T ) X S.G
dimana :
C = Potensi endapan
L = Luas daerah (M2)
T = Tebal Endapan (M)
V = Volume. (M3)
SG = Berat Jenis Rata-rata.
Mineralisasi Mangan di Olat Baramayung
Berdasarkan pengamatan penyebaran lapisan mangan kearah strike atau jurus(Utara-selatan) yang terlihat kurang lebih 100 m, sedangkan penyebaran lapisan mangan kearah kemiringan (dip =24o) jika diasumsikan penambangan dilakukan mencapai kedalaman 50 m maka didapat luas lapisan mangan adalah L=(100 x (50 : sin 24o)) m2 = ( 100 x 122,9296677) m2 = 12.292,96677 m2.
Berdasarkan Parit Lintasan Terukur LT-1 maka didapat ketebalan lapisan mangan yang berkadar tinggi diperkirakan setebal 12,50m .
Untuk menghitung Volume adalah V= luas x tebal = (10.292,96677 x 12,50)m3 = 147.510,60124 m3.
Untuk menghitung tonase maka diperlukan data analisis SG atau berat jenis rata-rata yang masih dikerjakan di Laboratorium Fisika Mineral, sementara belum selesai hasil labortaorium maka diasumsikan dengan berat jenis mangan yang standar dengan nilai SG mangan = 5.
Untuk Potensi endapan Mangan C = (volume x SG) ton = (147.510,60124 x 5) ton = 735.553,00 ton.
Untuk menghitung potensi Endapan Mangan dilakukan dengan cara menghitung volume bijih dikalikan dengan berat jenis mangan. Maka rumus yang digunakan adalah :
C = (L X T ) X S.G
dimana :
C = Potensi endapan
L = Luas daerah (M2)
T = Tebal Endapan (M)
V = Volume. (M3)
SG = Berat Jenis Rata-rata.
Mineralisasi Mangan di Olat Baramayung
Berdasarkan pengamatan penyebaran lapisan mangan kearah strike atau jurus(Utara-selatan) yang terlihat kurang lebih 100 m, sedangkan penyebaran lapisan mangan kearah kemiringan (dip =24o) jika diasumsikan penambangan dilakukan mencapai kedalaman 50 m maka didapat luas lapisan mangan adalah L=(100 x (50 : sin 24o)) m2 = ( 100 x 122,9296677) m2 = 12.292,96677 m2.
Berdasarkan Parit Lintasan Terukur LT-1 maka didapat ketebalan lapisan mangan yang berkadar tinggi diperkirakan setebal 12,50m .
Untuk menghitung Volume adalah V= luas x tebal = (10.292,96677 x 12,50)m3 = 147.510,60124 m3.
Untuk menghitung tonase maka diperlukan data analisis SG atau berat jenis rata-rata yang masih dikerjakan di Laboratorium Fisika Mineral, sementara belum selesai hasil labortaorium maka diasumsikan dengan berat jenis mangan yang standar dengan nilai SG mangan = 5.
Untuk Potensi endapan Mangan C = (volume x SG) ton = (147.510,60124 x 5) ton = 735.553,00 ton.
Mineralisasi tipe gossan besi
manganese ? di hulu S. Pasar
Penyebaran deluvial gossan yang mengndung oksida besi manganese berdasarkan pengamatan dilapangan seluas 25.000 m2
Pada daerah mineralisasi gossan dibuat 1 buah Parit uji dan 4 buah Sumur uji. Untuk mendapatkan ketebalan atau kedalaman bongkah deluvial maka kedalaman bongkah deluvial pada sumuruji rata-rata adalah 1,925 m. Pada pengamatan di lapangan menunjukkan kerapatan bongkah deluvial gossan adalah 20%. Jadi Volume deluvial gossan adalah V= luasx ketebalanx kerapatan = (25000 x 1,925 x 20%)m3 = 9.625 m3. Berhubung analisis berat jenis (SG) belum selesai maka perhitungan potensi (tonase) diasumsikan dengan berat jenis mangan yang terendah yaitu nilai SG = 4.
Untuk Potensi endapan deluvial gossan C = (volume x SG) ton = (9.625 x 4) ton= 37.500 ton.
Penyebaran deluvial gossan yang mengndung oksida besi manganese berdasarkan pengamatan dilapangan seluas 25.000 m2
Pada daerah mineralisasi gossan dibuat 1 buah Parit uji dan 4 buah Sumur uji. Untuk mendapatkan ketebalan atau kedalaman bongkah deluvial maka kedalaman bongkah deluvial pada sumuruji rata-rata adalah 1,925 m. Pada pengamatan di lapangan menunjukkan kerapatan bongkah deluvial gossan adalah 20%. Jadi Volume deluvial gossan adalah V= luasx ketebalanx kerapatan = (25000 x 1,925 x 20%)m3 = 9.625 m3. Berhubung analisis berat jenis (SG) belum selesai maka perhitungan potensi (tonase) diasumsikan dengan berat jenis mangan yang terendah yaitu nilai SG = 4.
Untuk Potensi endapan deluvial gossan C = (volume x SG) ton = (9.625 x 4) ton= 37.500 ton.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penyelidikan mineralisasi bijih mangan di kabupaten Sumbawa ( daerah Olat Maja) maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebaga berikut :
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penyelidikan mineralisasi bijih mangan di kabupaten Sumbawa ( daerah Olat Maja) maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebaga berikut :
·
Mineralisasi
logam di daerah Olat Maja, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, ditemukan 2
lokasi yaitu Mineralisasi Mangan tipe Sedimenter yang terletak di bukit Olat
Baramayung dan Mineralisasi berupa endapan deluvial yang mengandung oksida besi
manganese ? yang terletak dihulu S. Pasar, lereng bukit Olat Maja , ditafsirkan
sebagai endapan oksidasi residual.
·
Potensi
Sumberdaya Hipotetik bijih mangan di daerah Olat Maja terdiri dari :
·
Bijih
Mangan Tipe Sedimenter di bukit Olat Baramayung dengan Sumberdaya Hipotetik
sebesar 147.510,60 m3, bila diasumsikan SG (berat jenis) mangan = 5 maka
menjadi sebesar 735.553,00 ton.
·
Endapan
deluvial tipe gossan besi manganese ? yang
terletak di hulu S. Pasar mempunyai Sumberdaya Hipotetik sebesar = 9.625
m3 bila diasumsikan SG (berat jenis) mangan=4 maka menjadi sebesar 37.500 ton
·
Potensi
deluvial gssan (oksida besi) ini tidak ekonomis ditambang.
Komentar
Posting Komentar