pertemuan ke 4
METALLURGICAL
ENGINEERING
“PENGOLAHAN
ALUMINA”
Teknik Metalurgi adalah bidang
ilmu keteknikan yang membahas tentang proses pengolahan mineral (termasuk
pengolahan batubara), proses ekstraksi logam dan pembuatan paduan, hubungan
perilaku sifat mekanik logam dengan strukturnya, proses penguatan logam serta
fenomena-fenomena kegagalan dan degradasi logam. Sedangkan Teknik Material
adalah bidang ilmu keteknikan yang membahas tentang sifat-sifat bahan dan hubungan
antara struktur bahan dan sifatnya serta mempelajari tentang desain berbagai
jenis material (logam, plastik, keramik, komposit) untuk aplikasi tertentu.
Cakupan bidang ilmu yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari pada program
studi ini sangat luas. Mulai dari badan dan mesin mobil, badan pesawat, plastik
kemasan, alat komunikasi, keramik insulator, filament x-ray yang terbuat dari metallic powder hingga material tercanggih yang ada saat ini
seperti titanium dan fiber composites
yang digunakan pada pesawat luar angkasa, ginjal buatan, body implants dan
superkonduktor, dan lain-lain. Lingkup ilmu Teknik Metalurgi begitu luas, dimulai dari pengolahan mineral (mineral dressing), ekstraksi logam dan
pemurniannya, perekayasaan sifat fisik logam (physical metallurgy), proses produksi logam (mechanichal metallurgy),
teknologi perancangan dan pengoperasian sistem-sistem metalurgi hingga fenomena kegagalan struktur logam
akibat beban mekanik dan degradasi logam akibat berinteraksi dengan
lingkungannya termasuk pengendaliannya, serta teknologi daur ulang. Sedangkan
lingkup ilmu Teknik Material adalah mengenai teknik proses atau fabrikasi
(pengecoran, pengerolan, pengelasan, dan lain-lain), teknik analisa,
kalorimetri, mikroskopi optik dan elektron, dan lain-lain. Analisa estimasi
pembiayaan dalam penambangan atau produksi material untuk industri tambang yang
dilakukan (output and income) adalah
bidang fokus orang-orang material.
Dalam setiap perencanaan,
pemilihan komponen material merupakan faktor utama yang harus diperhatikan.
Karena sebelum merencanakan terlebih dahulu diperhatikan dan diketahui jenis
dan sifat bahan yang akan digunakan, misalnya tahan terhadap korosi, tahan
terhadap keausan, keuletan dan lain-lain. Adapun tujuan pemilihan material agar
bahan yang digunakan untuk pembuatan komponen dapat ditekan seefisien mungkin
di dalam penggunaannya dan selalu berdasarkan pada dasar kekuatan dan sumber
pengadaannya. Supaya material dapat memenuhi kriteria yang diharapkan, juga
perlu diperhitungkan adanya beban yang terjadi pada material tersebut.
Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam pemilihan material adalah sebagai berikut:
1. Efisiensi
Bahan
Dengan memegang prinsip ekonomi
dan berlandaskan pada perhitungan-perhitungan yang memadai, maka di harapkan biaya
produksi pada tiap-tiap unit sekecil mungkin. Hal ini dimaksudkan agar
hasil-hasil produksi dapat bersaing dipasaran terhadap prduk-produk lain dengan
spesifikasi yang sama.
Dalam perencanaan suatu produk,
apakah bahan yang digunakan mudah didapat atau tidak. Walaupun bahan yang
direncanakan sudah cukup baik tetapi tidak didukung oleh persediaan dipasaran ,
maka perencanaan akan mengalami kesulitan atau masalah dikemudian hari karena
hambatan bahan baku tersebut. Untuk itu harus terlebih dahulu mengetahui apakah
bahan yang akan digunakan itu mempunyai komponen pengganti tersedia dipasaran.
3. Spesifikasi
Bahan Yang Dipilih
Pada bagian ini penempatan bahan
harus sesuai dengan fungsi dan kegunaannya sehingga tidak terjadi adanya beban
yang berlebihan pada bahan yanag tidak mampu menerima beban tersebut. Dengan
demikian pada perencanaan bahan yang akan digunakan harus sesuai dengan fungsi
yang berbeda antara bagaian satu dengan bagian yang lain, dimana fungsi dari
masing-masing bagian tersebut saling mempengaruhi antara bagian yang satu
dengan bagian yang lainnya.
4. Kekuatan Bahan
Dalam hal ini untuk menentukan
bahan yang akan digunakan haruslah mengetahui dasar kekuatan bahan serta sumber
pengadaannya, mengingat pengecekan dan penyesuaian suatu produk kembali kepada
kekuatan bahan yang akan digunakan.
Pada dunia industri banyak terjadi kegagalan yang
disebabkan oleh cacat material. Banyak peneliti mencari cara bagaimana untuk
mengetahui ada tidaknya cacat pada suatu material. Secara garis besar, terdapat
dua jenis pengujian material yaitu pengujian merusak (Destructive Test) dan pengujian tidak merusak (Non Destructive Test). Terlihat dari namanya, pengujian ini
dibedakan atas bagaimana kondisi terakhir dari material setelah pengujian.
Pengujian merusak (Destructive Test)
biasanya digunakan untuk mengukur sifat mekanik suatu material, seperti:
kekuatan, kekerasan, fatigue dan lain sebagainya. Sedangkan pengujian tidak
merusak (Non Destructive Test) lebih
condong untuk mengetahui ada tidaknya cacat, struktur mikro dan estimasi sifat
mekanik pada material.
DESTRUCTIVE TEST
Destructive
Test adalah pengujian yang dilakukan
terhadap suatu material atau spesimen
sampai material tersebut mengalami kerusakan. Pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui performa pada material yang bersangkutan, salah satunya bila
material tersebut dikenai kerja dari luar dengan besar gaya yang berbeda-beda.
Pengujian ini umumnya jauh lebih mudah untuk dilaksanakan, selain itu
memberikan informasi yang lebih baik dari pada Non Destructive Test. Destruktif tes lebih baik dilakukan dan akan
lebih ekonomis untuk objek yang akan diproduksi secara masal, misalnya mobil.
NON DESTRTRUCTIVE TEST
Non Destrtructive Test (NDT)
adalah aktivitas tes atau inspeksi terhadap suatu benda untuk mengetahui adanya cacat, retak, atau discontinuity lain
tanpa merusak benda yang kita tes atau inspeksi. Pada dasarnya, tes ini
dilakukan untuk menjamin bahwa material yang kita gunakan masih aman dan belum
melewati damage tolerance. Material pesawat diusahakan semaksimal mungkin tidak
mengalami kegagalan (failure) selama masa penggunaannya. NDT dilakukan paling
tidak sebanyak dua kali. Pertama,
selama dan diakhir proses fabrikasi, untuk menentukan suatu komponen dapat
diterima setelah melalui tahap-tahap fabrikasi. NDT ini dijadikan sebagai
bagian dari kendali mutu komponen. Kedua,
NDT dilakukan setelah komponen digunakan dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya
adalah menemukan kegagalan parsial sebelum melampaui damage tolerance-nya.
Dalam rangka pengujian bahan yang
akan digunakan dalam proses manufaktur dan kegiatan pengolahan material
lainnya, selain destruktif dan non destruktif tes, terdapat pula metode
metalografi dan analisa kegagalan pada material.
METALOGRAFI
Sebelum diketahui atau digunakan dalam industri
atau bagian-bagian yang lain, karakteristik struktural atau susunan dari logam
atau paduannya yang akan digunakan atau ditawarkan pada industri, dengan
melakukan pengujian metalografi maka dapat dilakukan berbagai jenis perubahan
pada suatu material setelah mengetahui karakteristiknya. Dari hal inilah, orang
mulai mencoba untuk melakukan uji metalografi pada suatu material. Sehingga
dengan cara ini dapat diperoleh bahan dengan sifat-sifat yang sesuai dengan
tujuan tertentu untuk memenuhi kebutuhan teknologi modern yang meningkat. Untuk
itu, pengujian metalografi sangat berguna dalam berbagai dunia industri,
terutama pada industri logam dan otomotif. Karena kebutuhan akan logam ini
semakin meningkat, maka banyak industri manufaktur menyuplai bahan logam yang
ada di pasaran san telah melalui berbagai proses pengujian bahan. Maka tidak
dapat dipungkiri bahwa pengujian metalografi sangat berperan bagi dunia
industri. Oleh karena itu kita harus berusaha mencari material yang memiliki
sifat dan karakteristik yang baik.
Beberapa tahapan yang biasa
dilakukan dalam metode metalografi adalah sebagai berikut:
1. Pemotongan
Pemotongan atau sectioning adalah pengambilan sebagian
sampel representatif yang akan dianalisis dengan berbagai cara, seperti
pemotongan dengan cakram abrasiif, gergaji atau dengan plasma bertekanan
tinggi.
2. Labeling,
Identifikasi
Labeling
yaitu pemberian identitas sampel agar dapat dibedakan dengan yang lainnya.
Labeling
dapat dilakukan dengan cara penggoresan, pengetokan atau dengan cara lainnya.
Pastikan
bahwa tidak akan hilang selama preparasi.
3. Mounting
Mounting yaitu pelapisan sampel
logam dengan zat organik seperti bakelit, exponin resin dengan maksud
mempermudah penanganan selama persiapan metalografi. Teknik mounting daoat
dilakukan dengan berbagai cara seperti clamp
mounting, compression mounting, cold
mounting dan conductive mounting.
Perbedaan pokok dari keempat cara tersebut
tergantung pada bahan dan teknik pelapisan yang dilakukan.
4. Grinding,
Penggerindaan
Grinding atau pengetaman untuk
meratakan permukaan sampel dengan menggunakan kertas/bahan abrasif. Ukuran
abrasif yang digunakan mulai dari 40 sampai 1200 mesh. Bahan abrasif umumnya
terbuat dari alumina silicon karbida, emery atau intan.
Untuk menghindari engaruh
temperature gesekan, maka operasi perataan permukaan dilakukan dengan cara
basah. Teknik grinding dapat dilakukan dengan hand grinding, automatic
machine, atau lapping.
5. Polishing,
Pemolesan
Polishing atau pemolesan adalah
tahap akhir dari perataan permukaan sampel. Syarat permukaan sampel yang dapat
dignakan untuk analisis metalografi adalah harus bebas goresan dan tampak
seperti cermin. Pemolesan dapat dilakukan secara bertahap dengan cara mekanis,
kimia dan elektrolitik.
6. Etching,
Pengetsaan
Etching atau pengetsaan adalah
pemberian reagen kimia yang disebut dengan etchant pada permukaan hasil
polishing untuk menimbulkan penampakan khusus seperti fasa, batas butir,
dislokasi dan struktur mikro tertentu di bawah mikroskop.
Teknik pengetsaan dapat dilakukan
dengan cara kimia, elektrolitik dan katodik vakum. Setiap logam memiliki
reagent etchant tertentu, seperti baja dan besi cor, dapat digunakan reagent
nitai atau picral yang keduanya menampakkan fasa pearlite.
7. Cleaning,
Pembersihan
Cleaning adalah pembersihan
permukaan logam yang belum dan sesudah dietsa dari kotoran ataupun reagent
kimia. Bahkan sangat dianjurkan setiap tahapan selalu dilakukan pencucian
permukaan sampel sebelum masuk tahap berikutnya. Pencucian dapat dilakukan
dengan menggunakan air mengalir sampai pada tahap polishing dan menggunakan
alkohol untuk etsa.
8. Drying,
Pengeringan
Tahap akhir adalah pengeringan
sampel sebelum pengamatan mikroskop. Permukaan sampel harus benar-benar kering.
Air yang tersisa pada permukaan akan teruapkan saat pengamatan. Hal ini akan
merusak lensa mikroskop. Selain itu, air yang tersisa dapat memberikan
interpretasi menjadi salah.
FAILURE ANALYSIS
Analisis kegagalan adalah
langkah-langkah pemeriksaan kegagalan atau kerusakan pada suatu komponen yang
mencakup situasi dan kondisi kegagalan atau kerusakan tersebut, sehingga dapat
ditentukan penyebab dari kegagalan/kerusakan yang terjadi pada komponen
tersebut. Tujuan dari analisan kegagalan adalah sebagai berikut:
a. Menemukan
penyebab utama kegagalan.
b.
Menghindari kegagalan atau
kerusakan yang sama dimasa yang akan datang dengan melakukan langkah-langkah
penanggulangan.
c. Sebagai
bahan pengadukan teknis terhadap pembuatan komponen.
d. Sebagai
langkah awal untuk perbaikan kualitas dari komponen tersebut.
e. Sebagai
penentuan kapan waktu perawatan (maintenance) dilakukan.
Kegagalan suatu komponen biasanya
diawali dengan retakan yang menjalar sehingga menyebabkan suatu cacat. Retakan
yang terjadi dapat dikatagorikan atas ciri-ciri makroskopis, yaitu sebagai
berikut:
1. Patah
ulet (Ductile fracture)
2. Patah
getas (Brittle fracture)
3. Patah
lelah (Fatigue fracture)
4. Retak
korosi tegangan (Stress corrosion
cracking)
5. Penggetasan
(Embrittlement)
6. Mulur (Creep) dan Stress rupture
Bauksit merupakan bijih utama
pembentuk aluminium dimana komposisinya berupa senyawa oksida dari aluminium
yaitu Al2O3 dan Al(OH)3. Selain aluminium, juga terdapat senyawa lain seperti Fe2O3, SiO 2 dan TiO2. Di Indonesia, bauksit banyak
terdapat di Pulau Bintan dan Kalimantan Barat.
Bauksit dapat menghasilkan alumina melalui berbagai
macam proses. Proses pengolahan alumina yang terakhir ditemukan dan masih
digunakan hingga sekarang yaitu Proses Bayer. Proses Bayer merupakan suatu
proses pemurnian bijih bauksit untuk menghasilkan aluminium dalam bentuk
oksidanya atau yang disebut alumina. Tahap-tahap pada proses Bayer ini meliputi
ekstraksi, presipitasi dan kalsinasi.
Selain menghasilkan alumina, pada akhir proses
Bayer juga menghasilkan residu bauksit atau yang dikenal dengan red mud. Red mud yang dihasilkan tersebut masih terkandung aluminium dalam
bentuk Al2O3.Namun komponen utama dari red mud
adalah Fe2O3 dengan kisaran kadarnya sebesar 20-45%. Untuk Al2O3 10-22%, SiO2 5-30%, TiO2 4-20%, CaO 0-14% dan Na2O 2-8%. Oleh karena kandungan
besi yang banyak, maka menyebabkan warna dari red mud menjadi merah.Red mud
hasil dari pencucian (tailing) berupa cairan lumpur bercampur dengan pasir yang
disebut sebagai limbah pencucian bauksit, kemudian dialirkan ke kolam-kolam
pengendapan terlebih dahulu sebelum dialirkan ke laut atau lingkungan sekitar.

Pada prinsipnya, proses Bayer
bertujuan untuk Pemurnian Bijih Bauksit dengan cara menghilangkan 3 komponen pengotor utama yaitu Fe2O3, SiO2 dan TiO2. Kalsium dan magnesium biasanya terkandung dalam bentuk mineral dolomit
yang tidak larut. Pemurnian atau menghilangkan senyawa silika dalam larutan
sodium aluminat hasil proses Bayer menggunakan reagen-reagen desilikasi yaitu CaCl2, Ca(OH)2 dan karbon aktif. Menurut Totten and MacKenzie (2003), komposisi
larutan sodium aluminat hasil dari proses Bayer komersial umumnya mengandung
oksida utama Al2O3 sekitar 32,8 g/100 g bebas Na2O dan mengandung pengotor SiO2 terlarut cukup rendah sekitar 0,6 g/100 g bebas Na2O. Kandungan SiO2 terlarut dalam larutan hasil
proses Bayer komersial adalah maksimum 0,6 mg/L. Noworyta dalam Hudson (1987) telah berhasil menurunkan kandungan
silika terlarut hingga < 0,02 mg/L dalam larutan sodium aluminat dengan
menggunakan 7,1 g/L CaO sebagai reagen desilikasinya.
Bijih bauksit yang berkadar
rendah diketahui mengandung aluminium
rendah, yang akan mengurangi kemampuan mengekstraksi unsur aluminium. Pengotor
utama pada bijih bauksit di antaranya adalah senyawa silika, besi dan titanium.
Silika biasanya berasosiasi membentuk mineral silikat berupa kaolinit,
haloysite atau silika itu sendiri berupa mineral kuarsa. Sebagian silika
(kuarsa) larut dalam larutan sodium aluminat hasil proses Bayer pada suhu di
atas 180 oC, sedangkan lempung atau silikat lain seperti kaolinit mudah bereaksi
dengan NaOH pada saat proses digestion.
Percobaan metode pemurnian bijih bauksit di
indonesia sebelumnya telah dilakukan dan menunjukkan kandungan pengotor dalam
larutan sodium aluminat hasil proses Bayer dari bijih bauksit terdiri dari Fe2O3=10,66 mg/L; SiO2=56,08 mg/L; CaO=4,16 mg/L; P2O5=26,92 mg/L dan TiO2=7,02 mg/L. Proses penurunan
jumlah logam terlarut yang tidak diharapkan dalam larutan sodium aluminat
khususnya Fe2O3 dapat dilakukan dengan menggunakan larutan polimer amidoxime, sehingga
membentuk kompleks polimer-besi yang bisa mengendap dalam larutan sodium
aluminat.
Selain itu, keberadaan silika
dalam bijih bauksit menyebabkan pelarutan dan presipitasi kembali silika
sebagai produk desilikasi tipe sodalite, sehingga akan mengkonsumsi NaOH lebih
banyak. Oleh karena itu, lebih baik mengontrol desilikasi saat proses digestion
dengan mengubah silika menjadi senyawa yang memiliki kelarutan rendah seperti
kalsium aluminosilikat. Senyawa tersebut terbentuk dengan bantuan pereaksi
kimia seperti kalsium oksida (CaO), kalsium hidroksida Ca(OH)2 atau turunan dari senyawa
kalsium klorida (CaCl2) yaitu Friedel’s salt yang memiliki kapasitas penukar ion terhadap
silikat dalam larutan sodium aluminat sintetis yang dapat mengurangi > 95%
silica.
Pda tahun 2011, kembali dilakukan
penelitian penurunan silika terlarut menggunakan Whiton yang mengandung CaCO3 sebagai bahan desilikasi pada
proses digestion terhadap bijih bauksit yang mengandung SiO2 total 1,17%. Larutan sodium
aluminat yang dihasilkan mengandung silika terlarut 93% lebih rendah daripada
larutan yang dihasilkan tanpa penambahan CaCO3
Penelitian terakhir yang dilakukan melakukan
percobaan penurunan jumlah pengotor logam terlarut yang tidak diinginkan dalam
larutan sodium aluminat dengan menggunakan CaCO3 pada saat proses digestion dan
masing-masing senyawa kimia CaCl2, Ca(OH)2, dan karbon aktif pada larutan sodium aluminat yang dihasilkan dari
proses digestion dengan kandungan SiO2 total dalam bijih bauksit yaitu 5,99%. Metode yang digunakan adalah
terhadap bijih bauksit dilakukan preparasi ayak basah berukuran lolos 60 mesh.
Bijih bauksit kemudian
direaksikan dengan NaOH dan
Whitton (CaCO3) di dalam bejana bertekanan 3 bar (2,96 atm) pada suhu 140 oC selama 2 jam. Proses Bayer ini
menghasilkan larutan sodium aluminat dan residu lumpur berwarna merah yang
dikenal dengan nama red mud yang kemudian dipisahkan melalui penyaringan.
Terhadap percontoh larutan sodium aluminat yang dihasilkan, dilakukan analisis
kimia untuk melihat komposisi kandungan oksidanya. Berdasarkan hasil analisis
kimia diketahui larutan sodium aluminat tersebut mengandung SiO2 yang tinggi (17,5 g/L). Terhadap
larutan sodium aluminat tersebut ditambahkan senyawa kimia pengikat SiO2 (desilikasi) yaitu CaCl2, Ca(OH)2 dan bahan penyerap karbon-aktif
dengan rasio mol 1:1 terhadap SiO2. Masing-masing senyawa desilikasi dan bahan penyerap karbon aktif
tersebut ditambahkan pada saat larutan sodium aluminat telah mencapai suhu 70
C. Pada menit ke 30; 90; 150; 210; 270 hingga menit ke 300 diambil percontoh
larutannya dengan pipet lalu dianalisis kimia untuk mengetahui kandungan oksida
sisa dalam larutan tersebut. Diagram alir proses pemurnian larutan sodium
aluminat dapat dilihat pada gambar dibawah:

Komentar
Posting Komentar